Rangkaian Bunga Meja Altar

Seni ( Pelayanan) Meronce Bunga dalam Perayaan Liturgis





Romo A.Susilo Wijoyo, Pr


Pengantar

Liturgi adalah satu kegiatan rohani-imani nan dilakukan secara bersama, resmi, dan simbolis. Ia bukan sekedar tahmid yang dilakukan secara bersama-sama, namun bertambah merupakan suatu rangkaian ritual nan utuh, punya kebiasaan, dan signifikan idiosinkratis. Bak suatu ikatan ritual, liturgi tak terbebas terbit unsur-unsur berseni figuratif, ada pula unsur-unsur fungsional semata. Anasir-unsur itu ada nan alami ( jago merah, air, ratus, pohon ), ada pula yang sengaja diciptakan lakukan keperluan liturgis ( busana, perlengkapan, perabot )


Peran kesenian memang tak bisa diabaikan dalam liturgi. Seni diperlukan untuk bisa menyentuhkan misteri yang agung dalam liturgi itu pada hati kita. Seni digunakan bakal membagi wujud atau wajah bagi unsur-elemen simbolis agar dapat membantu pengungkapan misteri yang tak mudah terpahami akal kepribadian itu. Semua unsur itu pun memerlukan peran aktif yang tepat dari para praktisi liturginya hendaknya kerelaan unsur-anasir itu intern perayaan liturgi sungguh berdaya dan berbuah fungsi. Hasil olah cipta kesenian n domestik liturgi berinteraksi dengan setiap perayaan liturgi, setiap orang yang berpartisipasi didalam perayaan itu.

Salah satu gambar unsur kesenian itu adalah rangkaian bunga.Yang pertama harus diperhatikan saat ini ini agar lain rente-bunganya, atau rangkaiannya,tapi siapa yang berkepentingan dengan itu. Maka, uraian berikut ini terutama ditujukan bagi para seniman-senawati pengepang anakan, atau boleh jadi pula nan menempatkan peduli puas seni tata puspa begini. Kita teradat menanya dulu tentang bagaimana kiranya para perajut bunga harus bersikap dalam menghadapi tugas mulia berpartisi dalam liturgi, khususnya melangkaui bakat yang dimilikinya? Kita pun akan mengajak para perangkai bunga bikin lebih mengerti peran Seni merangkai rente itu sendiri dalam perayaan liturgis.


Pengepang Anakan : Artis dan Pelayanan

Istilah “perangkai anakan” barangkali belum terlalu tepat untuk mengilustrasikan peranan pentingnya dalam liturgi.Istilah ini dapat sekadar dimengerti sebatas arti teknis-praktis. Asal mampu” Mengunting bunga” entah seberapa ki akbar raksasa kadar kemampuanya maka bisa disebut bak “ perangkai rente “. Siapa karyanya tak terasa artistik, enggak indah, abnormal berseni.Seorang pengepang bunga sewajarnya dapat berkembang menjadi seniman-floral( flos-florist ( m)= anakan ) atau artis-seniwati bunga tulus, bukan puas menjadi “pakar merangkai anak uang”. Biarpun demikian istilah “ perajut anakan “tegar kita gunakan
sahaja kini hanya privat pengertian nan lebih lengkap dan berdimensi estetis.Seorang “florist”biasanya berjiwa seni juga dia paham tentang bunga dan rumpun-rumpunnya, sekaligus tahu menggunakan mereka sebagai atom utama karya cipta seni- floral-nya

Apakah setiap karya perangkai bunga ataupun floral – meskipun mencapai taraf keayuan tertingi dalam matra artistiknya – tentu setuju lakukan suatu perayaan liturgis? Belum tentu. Maka , sebaiknya tidak setiap penjalin bunga atau artis-floral boleh dengan semacam itu
semata-mata menceburkan diri dalam liturgi .seperti hal laskar nan hendak modern perang ,mereka sebelumnya dilatih dan diberi adv pernah bagaimana situasi medan tempurnya.Perangkai bunga yang formal bekerja bakal kebutuhan profan pun seyogiannya juga sampai-sampai dulu mau mengenal gelanggang karyanya yang berbeda ,ialah yang berkarakter spiritual dan suci dalam liturgy.Perangkai bunga cak bagi liturgi seharusnya kembali cak hendak mendalami liturgy itu sendiri ,gelanggang nyata bagi karyanya.

Lamun bertindak sebagai pelaku utama dalam susuk kesenian ini, penjalin bunga agar meresapi tugas dan peranannya sebagai pelayan.Dia bukan pemilik dan penguasa liturgi, yang bisa dengan sesedap hati memanfaatkan liturgi bagi kebutuh pribadi. Artinya, dia harus lebih mengutamakan kepentingan liturgi semenjak pada kepentingan seorang. Barang apa kemampuannya diabdikan lakukan kemuliaan Tuhan nan kita temui dalam perayaan liturgi. karya seni ciptaannya diarahkan untuk kontributif jemaat atau setiap peraya seyogiannya dapat merasakan kesanggupan Tuhan seumpama perlengkapan agar sesamanya dapat diantar lakukan lebih dempang dan mencintai Tuhannya.

Spritualitas peladenan liturgis juga berlaku bagi pengelabang rente, juga bagi setiap seniman yang mangabdikan diri bikin liturgi. Semua yang terlibat dalam liturgi mudahmudahan menghayati tugasnya umpama pihak yang menghidangkan liturgi ( munus ministeriale ) Paus Yohanes Paulus II sangkut-paut menggambar kerjakan para artis, artis-seniwati.

“ Panggilan individual seniman-seniwati secara perorangan menetapkan parasan nan mereka layani, sederum menunjukan tugas-tugas yang harus mereka emban; karya jarang yang harus mereka kewajiban dan tanggung jawab yang harus mereka peroleh. Seniman – seniwati yang menyadari semua itu mengerti lagi, bahwa mereka harus bersusah payah tanpa membiarkan diri didorong oleh persuasi meraih mahamulia yang nol dan kegelojohan akan popularitas nan murahan, terlebih oleh perhitungan suatu keuntungan nan munkin bagi diri mereka seorang . oleh karena itu suka-suka satu etika, lebih-lebih suatu spritualitas”Pelayanan Artistik, yang dengan caranya menyampaikan sumbangan kepada pembaruan hidup dan restorasi rakyat.( 4 April 1999, Letter of His Holiness Pope Johm Paul II to Artist, 4 )

Baca :   Penyakit Kacer Dan Cara Mengobatinya

Surat Paderi ini tertuju pula bagi para perangkai anakan yang diharapkan mau sungguh menghayati bidang karya khusus, tanpa digemuruhi
oleh hasrat akan pemujaan diri atau kesenangan pribadi semata. Maka, masih perlukah perangkai rente selalu mengharapkan penghargaan ataupun teguran khusus dari padri alias sosok lain terhadap karyanya? Sanjungan memang menyenangkan hati dan yaitu dambaan nan amat manusiawi. Pujian juga kritikan patut diterima
andai anugerah dan disyukuri. Tapi , kalau bukan suka-suka, enggak teradat mengurangi
dedikasi kerjakan pendewaan Tuhan.


Anak uang Dalam Tata Ulas Litrugis

Ruang liturgis
puas dasarnya yakni medan untuk terselenggaranya perayaan liturgis. Bilang unsur terdahulu harus dipenuhi sehingga wadah itu menjadi pantas utuk perayaan liturgi yang berkarakter kudus. Penataan ruang liturgis bisa diperkaya pula dengan majemuk zarah ornamental. Lalu, dimana moga rente-rente itu ditempatkan dalam satu ulas liturgis.


Gedung Gereja adalah ruang liturgis, ruang permanen yang jelas peruntukannya.Namun, tempat lain kembali dapat dibuat sebagai tempat pangsa liturgis kerjakan temporer waktu. Memang, berliturgi bukan harus didalam
gedung katedral, rumah ibadat, tapi juga bisa dirumah anak bini, lapangan, atau kancah lain nan pantas dan memenuhi syarat yang dituntut norma liturgi. Kita akan mengaram puas dua jenis ruang liturgis itu, yang tetap ( basilika)dan sementara ( non gereja )

Gedung gereja dibagi menjadi dua bagiaan, babak untuk pendeta dan para petugas pelayan seputar altar ( panti padri atau ruang altar ) dan bagian cak bagi umat yang berpartisipasi. Perkariban bunga dan elemen dekoratif
lainya dapat ditata dikedua bagian itu. Lazimnya hanya bagian privat dom yang dihiasi, biarpun dimungkinkan juga menghiasi bagian luar gereja.Yang majuh kita lihat biasanya ulas imamlah yang lebih diberi perhatian, bukan belaka urat kayu imamlah yang dihiasi. Jika dekorator memiliki konsep utuh dalam menghiasi gedung gereja ( baik interior maupun eksteriornya ), sebaiknya tidak hanya menimang-nimang dekorasi bakal panti imam.

Anasir-unsur gawai utama kerumahtanggaan gereja, khususnya kerjakan perayaan Ekaristi, adalah altar, ambo/mimbar,kursi imam. Anasir bukan lain yang berkaitan misalnya tabernakel meja kredes, takhta pelayan altar, tempat lilin, salib, dsb.atom-unsur itu ditata sesuai dengan norma liturgi. Rangkaian bunga dapat dibuat cak bagi ditempatkan di sekitar elemen-anasir itu. Prinsipnya, rangkaian bunga dan unsurnya ornamental lainya jangan sampai mengaburkan keberatan dan makna molekul-unsur itu, lebih-lebih anasir yang mengandung skor simbolis penting begitu juga altar, ambo, Kursi imam dan tabernakel. Misalnya, bunga yang berjibun menghias altar, entah yang diletakan pada mazbah atau nan di depan mazbah, boleh melenyapkan penampilan altar bak bidang datar perjamuan, yang sesungguhnya menjadi tempat terdahulu buat roti dan berpangku tangan, bahkan guna altar menandakan diri Yesus seorang. Dengan sungguh mencerna makna dan fungsi altar maka perangkai anak uang enggak akan bersikap ceroboh dengan asal merangkai atau meletakkan karyanya disekitar mazbah.

Aturan-aturan bagi bangunan dom diatas dolan lagi bikin urat kayu liturgis non gereja. Ulas liturgis non-basilika bisa berupa tempat nan lebih mungil ( rumah keluarga, Balairung ) atau bertambah raksasa ( tanah lapang, taman ) dari pada gedung gereja. Maka pertimbangan-pertimbangan artistic dan fungsional tentunya harus diambil jika bungaakan dihadirkan ibarat anasir dekoratif bagi pengelolaan urat kayu liturgisnya, menghafaz keterbatasan yang suka-suka, maupun kekurangan yang dimiliki wadah-palagan non-katedral itu. Teristiadat diingat sekali lagi bahwa n domestik dan menggurit memakai kedua jenis gelanggang liturgis itu jangan hingga unsur-zarah dekoratifnya justru menggangu kelancaran perayaan liturgis maupun membelokan fokus yang semestinya tearah puas misteri yang sedang dirayakan.

Baca :   Kutu Kebul Pada Tanaman Tomat

Beberapa Butir Penuntun


Cak semau sejumlah situasi yang wajib diperhatikan bagi mempersiapkan dekorasi untuk tata ruang liturgis. Situasi mendasar nan harus dipahami adalah pengenalan akan umat. Seniman, decorator,perajut bunga hendaknya berusaha menerjemahkan “ siapa dirinya”dan dalam karyanya. Sebagai anggota Katedral setempat,ia merupakan reprensetasi diri umat. Karyanya adalah citra diri umatnya. Maka, idealnya engkau memadai mengenal lampau khuluk, hal dan harapan umat, yang ia sendiri adalah salah satu bagiannya.kemudian, beberapa butir petunjuk berikut ini boleh dicoba diikuti.Kami sajikan kini sebagai penuntun umum, dimana perangkai bunga menjadi bagian dari petugas dekorasi.



a.
Pemahaman tentang makna dan norma liturgis dari setiap perayaan .


Pengetahuan yang makin mendalam sebaiknya ditimba berusul sumber-mata air yang bisa diandalkan ( buku, tukang liturgi,dsb ). Kognisi ini berharga supaya dekorator dapat merancang tema dekorasinya secara utuh dan mendunia sesuai dengan prinsip liturgisnya.

b.
Kaidah kesederhanaan yang anggun ( Latin : nobilia simpliciter, Inggris: noble Simplicity).Prinsip yang ditawarkan untuk peremajaan liturgi maju ini terdepan supaya rancangan dekorasi tetap sesuai dengan kehidupan publik liturgi modern. Kederhanaan nan anggun yaitu jalan tengah supaya kita tidak terlalu berada –berlebihan atau pun sesak sederhana kodian.setiap esktrem itu dalam pasti menghasilkan keindahan.Idealnya, meskipun lembaga dekorasi tampak keteter, namun setia melukiskan kegagahan nan anggun. Mungkin tidak begitu mudah menerapkannya.



c.
Peristiwa rubrik atau ajang cak bagi perayaan liturgis: keluasaan, warna, penyelenggaraan cahaya, alat dan riasan lain yang sudah permanen atau protokoler ada ( tulang beragangan,
reca, tulisan).Pengetahuan tentang kejadian factual juga penting agar rancangan dekorasinya dapat selaras dengan keseluruhan
konteks yang ada. Bisa jadi ada unsur nan terlazim dipindahkan, digeser, diganti, ditambahan, dsb, yang anggun. Kelihatannya tidak begitu mudah menerapkannya.



d.
Seleksian unsur dekoratif : anak uang, daun, karet, lilin, dsb.awalan ini diambil sesudah kita memetakan kebutuhan diatas( c ) kita harus memilih unsur-partikel dekoratif barang apa yang diperlukan dan sesuai dengan kontes keseluruhan rang.



e.
Wawansabda dan kerjasama antar penyusun unsure dekorasi. Hal ini mutakadim boleh dilakukan
sebelum dan selama pelaksanaan
kerja dekorasi pangsa liturgi.Kaidah kerja yang saling mengisi dan mendukung akan terasa meringankan
proses kerja itu sendiri .Semua decorator semoga tetap dijiwai jiwa meladeni liturgi, tak hasrat bakal menonjolkan diri melangkaui karyanya.


Seluruh paparan diatas mungkin belum begitu mudah untuk dijadikan
pedoman praktis.Kerjakan yang merasa terilhami silahkan mencoba menerapkannya.Catatan ini kiranya masih perlu disempurnakan, terutama dengan lebih menimba camar duka –pengalaman berwujud dari para perangkai bunga yang sudah malang melintang membaktikan diri dalam dunia perbungaan dan liturgis.Seyogiannya para artis-floral menjiwai peran pelayanan seperti bunga-bunga yang senantiasa cerita memandang sang penciptanya.


Rona-rona Liturgi



Nan dimaksud warna liturgi adalah corak kasula yang dipakai room/ pastor bilamana mempersembahkan misa, yang disesuaikan dengan musim liturgi ataupun ujud misa.

Gereja mengenal 5 jerambah liturgi, tetapi waktu ini yang masih dipakai hanya 4 warna

  • Rona Jati :
    Lambang terbit kegembiraan dan kesucian. Dipakai pada pesta / tahun raya Tuhan Yesus Kristus, Bunda Maria, Turunan Nirmala, Natal & Paskah
  • Warna Berma :
    Lambang pecah gelojoh kasih, api, talenta, pengurbanan / kemenangan,& kemujaraban Roh kudus Dipakai lega periode raya Minggu Palma, Jum’at Agung, Pentakosta, serta makan besar para Martir
  • Corak Baru :
    Lambang dari maksud dan kesuburan. Dipakai plong misa biasa, antara lingkaran musim Ntal dan hari Paskah
  • Warna ungu :
    Lambang dari tobat, Kesedihan dan keprihatinan. Dipakai lega tahun advent,Prapaskah yang dimulai pada Alat pernapasan Abu, misa Kehidupan
  • Warna Hitam :
    Lambang mulai sejak berkabung. Dipakai privat upacara Semangat dan penguburan. Warna hitam ini sudah rumpil dipakai sekali lagi dan biasanya diganti dengan warna ungu

Dandan Ungu Dipakai sampai periode rabu sebelum Kamis Putih ,sedangkan pada hari Ahad Palma dipakai rona biram.

Setelah Minggu Palma kita memasuki Lingkaran Tri Perian Suci dimana pada hari-hari tersebut nan dipakai
yakni warna putih. Selain itu, Warna putih juga dipakai lega pesta.:

  1. Kenaikan Yesus ke Kayangan

  2. Tri Tunggal Maha Murni

  3. Tubuh dan Darah Kristus
  4. Hati Kudus Yesus ( Jum’at Mula-mula dalam rembulan)
  5. Natal
Baca :   Toko Bunga Plastik Untuk Dekorasi Pernikahan


Pengelolaan Cara Merenceng Bunga Altar :



Menyair Katedral, mengeset bunga Altar maupun mendekor ruagan buat perayaan Ekaristi ataupun ibadat titah dirumah mempunyai kiat-kiat tertentu.

Selain rona liturgi dan Masa liturginya, harus pula diperhatikan keserasiaannya secara menyeluruh . Menyajak altar dan panti pater sebaiknya jangan mengganggu adv amat lintas alias kelancaran berlangsungnya Perayaan Ekaristi.

Tata pangsa gereja menjadi lebih indah atau serasi bila disertai tata hias bungadan dandan-warna liturgi yang harmonis.

Seseorang yang menyenggangkan waktunya untuk datang dan merenteng bunga di gereja, diharapkan memiliki kehendak dan cambuk untuk memuliakan Halikuljabbar, Kembali resan perkariban nan dulu menunjang eratnya kerja setinggi, tanpa terserah motifasi lain maupun ambisi pribadi.

Sebelum berkarya, kita berdoa dan lebih baik kembali kalau kita berdoa dalam hati pada saat ambisi pribadi.

Buat bagan asosiasi dapat dipilh antara bukan :


Gaya Eropa
: Bertambah banyak bunga


Tren Jepang
: Taksir sedikit rente


Gaya Tradisional
: Ikatan dengan melati atau janur


Apakah Kepentingan gabungan bunga di katedral maupun dirumah dalam kaitannya dengan perayaan liturgi ?

Sudah karuan untuk memperindah rumah Tuhan atau urat kayu ibadat di mileu atau tempat-tempat lain, sehingga umat yang beribadat merasa nyaman, serasi dan sejuk dalam mengikuti misa maupun upacara liturgi lainny.semua itu membantu umat kerjakan sembahyang dan menyelami keindahan dan keagungan Tuhan nan hadir ditengah UmatNya.

Hal-keadaan penting yang harus diperhatikan n domestik menghiasi katedral atau ruang ibadat terserah bilang adalah:


  • Kenap Altar di gereja maupun di mileu kiranya kalis dari paesan –hiasan, kecuali parafin yang termasuk kelengkapan upacara liturgi dan merupakan lambang semarak ilahi.Di atas mazbah hanya ada peralatan upacara misa yang dapat dilihat jelas oleh umat yang mengajuk


    Perayaan misa.


  • Korespondensi bunga moga diletakkan disamping asing atau didepan meja Altar dengan mempekerjakan standart tunggal. Perikatan bunga jangan bersisa tinggi dan jangan membentangi peralatan misa.

  • Selain Altar, kita juga harus memperhatikan mimbar ( apabila di dom ) Mimbar tak pentingnya dengan Altar jadi tribune sekali lagi harus di hiasi. Seperti altar, platform juga harus dihiasi sesuai dengan fungsinya.Dari sini disampaikan firman Tuhan, jadi pertautan juga jangan terlalu ki akbar sehingga menghampari lektris atau lektor yang bertugas, Sekali lagi Kitab Sucinya.

  • Akan halnya Corak bunga, Mudahmudahan disesuaikan dengan warna masa liturgi gereja . Pembiasaan warna rente denga corak liturgi atau warna kasula bukanlah suatu dogma atau peraturan gereja, saja untuk menciptakan suatu kemesraan dan nuansa didalam gereja.

Maka seyogiannya diperhatikan bikin Waktu-hari Raya / Lautan, rangkaian bisa agak meriah dan warna disesuaikan sama dengan nan telah diuraikan sebelumnya.lega Hari-Tahun pekan seremonial, simultan pastur mempekerjakan kasula bau kencur,interelasi sederhana saja, rona anak uang boleh netral dan kasmaran.

Untuk masa-masa Prapaskah dan advent, dimana gereja dalam tahun pertobatan dengan corak ungu moga tak cak semau anak uang di mazbah.Altar akan dihiasi dengan dedaunan saja, karena bunga adalah tanda kemeriahan,sedangkan hijaunya daun yaitu pamrih akan hal nan akan nomplok, Paaskah,ataupun Natal.


Kamis Putih,bunga yang dipakai biasanya berwarna putih untuk kejedot suasana masa raya tersebut.Setelah ritual kamis kudrati, semua rangkaian dipindahkan ke tarbernakel dimana Sakramen Mahakudus ditahtakan.

Jum’at Agung,
tidak ada hiasan setolok sekali. Altar nol, walaupun Pastur memakai kasula merah (Lambang Pengurbanan) pasca- upacara penghormatan salib mazbah diberi cadar ahmar untuk upacara (Peroleh ) komuni.

Sabtu Paskah, dan Paskah,
bunga berwarna putih dan asfar menggambarkan keagungan / ketinggian ilahi.Selepas Paskah ada Musim Raya kenaikan Yesus kesurga, Tri Tunggal Maha Kudus, Tubuh dan Darah Kristus, rente biasanya dipilih warna tahir dan asfar.

Pentakosta, ialah Hari Raya Jibril lambang caruk kasih Yang mahakuasa kepada umatNya.Arwah putih dilambangkan sebagai pucuk api.Rente Sebaiknya bercat merah.setelah Pentakosta hari raya yang besar adalah Natal.Natal dihiasi dengan anak uang berma meriah dan bau kencur.

Rangkaian Bunga Meja Altar

Source: https://serafien-bungaliturgis.blogspot.com/2009/08/dekorasi-gereja.html

Check Also

Cara Menghilangkan Spidol Di Kulit

Cara Menghilangkan Spidol Di Kulit Unduh PDF Unduh PDF Spidol permanen memang sangat bermanfaat, cuma …